INTERNASIONAL - Inilah Sejumlah Topik Bocoran Data Rahasia AS


Pengelola laman Wikileaks kembali membuat pemerintah Amerika Serikat (AS) resah. Setelah beberapa waktu silam mengungkapkan sejumlah dokumen militer Pentagon (Departemen Pertahanan), Wikileaks akhir pekan lalu memaparkan dokumen-dokumen rahasia komunikasi diplomatik AS dengan sejumlah negara.

Menurut stasiun televisi BBC, Minggu 28 November 2010, bocoran dokumen itu berupa kawat diplomatik yang diterima Washington dari sejumlah kedutaan besar (Kedubes) AS di sejumlah negara. Kawat diplomatik itu merupakan laporan atas sikap pemimpin atau pemerintah sejumlah negara atas berbagai isu, yang tidak boleh dipublikasikan untuk umum.

Selain Wikileaks, sudah ada sejumlah media yang turut mempublikasikan bocoran dokumen itu, diantaranya The New York Times dari AS dan surat kabar Guardian dari Inggris. 

Salah satu bocoran yang menarik adalah sikap pemimpin sejumlah negara Arab - termasuk Raja Abdullah dari Arab Saudi - yang menginginkan AS agar menyerang Iran untuk mengatasi isu senjata nuklir. Sikap itu berasal dari sejumlah negara Arab yang bersekutu dengan AS.

Menurut harian Guardian, Raja Abdullah berulangkali mendesak AS agar menyerang Iran untuk menghancurkan fasilitas nuklir, karena dikhawatirkan bisa digunakan menjadi bom atom. Dia "berulangkali meminta AS untuk menyerang Iran agar mengakhiri program senjata nuklirnya," demikian ungkap salah satu kawat diplomatik.

"Dia bilang kepada Anda [Amerika] untuk memotong kepala ular," kata Duta Besar Arab Saudi untuk AS, Adel a-Jubeir. Menurut bocoran dokumen, al-Juberi menulis kalimat itu dalam suatu laporan pertemuan antara Abdullah dengan panglima militer AS di Timur Tengah, Jenderal David Petreaus, pada April 2008.

Permintaan yang sama, menurut laporan sejumlah Kedubes AS di Timur Tengah, juga diutarakan sejumlah negara Arab. Bocoran kawat diplomatik itu juga mengungkapkan bagaimana Israel berambisi untuk menjadi kekuatan nuklir utama di Timur Tengah dan siap untuk sendiran berperang melawan Iran.

Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, pada Juni 2009 percaya diri bahwa ada peluang antara "enam hingga 18 bulan dari sekarang untuk menghentikan Iran dalam membuat senjata nuklir." Setelah itu, kata lanjut Barak, "solusi militer apapun akan menghasilkan kerusakan susulan yang tidak dapat diterima."   
 
Hingga kini, Wikileaks mengakui baru mempublikasikan 200 dari 251.287 data yang mereka peroleh dari sumber tertentu. Berikut topik sejumlah bocoran data laporan lainnya dari kawat diplomatik AS yang dipublikasikan Wikileaks, seperti yang dikutip laman stasiun televisi BBC:

- Upaya Iran untuk mencontoh roket-roket Korea Utara untuk rudal jarak jauh.

- Korupsi di tubuh pemerintahan Afganistan, yang terbukti kian parah saat seorang pejabat senior ditemukan membawa uang tunai sebesar US$50 juta saat dinas ke luar negeri.

- Upaya untuk mengosongkan kamp penjara di Teluk Guantanamo. Salah satunya adalah permintaan kepada diplomat Slovenia agar bersedia memungut seorang napi bila mereka ingin bertemu dengan Presiden AS, Barack Obama.

- Jerman pada 2007 diberi peringatan agar tidak menangkap sejumlah agen Dinas Intelijen CIA yang terlibat dalam suatu operasi, dimana seorang warga Jerman yang tidak bersalah ditangkap karena bernama sama dengan seorang tersangka militer. Warga itu ditangkap dan ditahan di Afganistan.

- Instruksi dari Menteri Luar Negeri Hillary Clinton kepada pejabat AS agar memata-matai kepemimpinan Perserikatan Bangsa-bangsa.

- Dugaan hubungan antara pemerintah Rusia dengan kriminal yang terorganisir.   

- Percakapan Presiden Yaman kepada Panglima Militer AS saat itu, Jenderal David Petraeus, mengenai serangan atas basis-basis al-Qaida di negaranya. "Kami akan terus bilang bahwa bom-bom itu milik kami, bukan punya kalian," kata presiden Yaman.

- Upaya AS untuk mencegah Suriah mengirim senjata kepada kelompok Hisbullah di Lebanon.

Wikileaks juga membocorkan laporan mengenai kekhawatiran diplomat atas materi nuklir Pakistan yang bisa digunakan sebagai bom atom. Para diplomat pun mengeluhkan maraknya praktik peretasan jaringan komputer, yang diduga didukung oleh pemerintah China.

*vivanews.com

0 komentar:

Posting Komentar

free comment,but not spam :)