INTERNASIONAL - Castro: Krisis Memburuk, AS Bisa Terkam Libya


Mantan pemimpin Kuba, Fidel Castro, menilai bahwa gejolak di Libya bisa menjadi alasan bagi Amerika Serikat (AS) untuk melakukan invasi. Berbeda dengan Castro, sejumlah pemimpin sayap kiri di Amerika Latin justru bersikap hati-hati atas situasi di negara Afrika Utara itu.

Menurut kantor berita Associated Press, Selasa 22 Februari 2011, Castro kepada media pemerintah Kuba mengatakan bahwa AS akan menggunakan pasukan NATO untuk mengendalikan situasi di Libya. Dia menambahkan bahwa ini merupakan rencana jahat AS untuk menguasai ladang-ladang minyak di Libya.

“Pemerintah Amerika Serikat tidak peduli sama sekali pada perdamaian di Libya dan tidak akan segan-segan untuk memberikan perintah kepada NATO untuk menginvasi negara kaya tersebut, mungkin dalam hitungan jam atau hari,” ujar Castro.

Castro mengatakan bahwa masih terlalu cepat untuk mengkritik Khadafi. Dia menambahkan bahwa berita-berita yang beredar saat ini masih belum bisa dikonfirmasi kebenarannya. “Kau dapat setuju atau tidak setuju terhadap Khadafi. Dunia telah dikuasai oleh berita, kita perlu menunggu waktu yang tepat untuk memastikan mana yang fakta dan mana yang bohong,” ujar Castro.

Presiden Nikaragua, Daniel Ortega, mendukung usaha Khadafi untuk mempertahankan kekuasaannya. Dia bahkan telah secara langsung menyampaikan dukungan dan solidaritasnya kepada Khadafi melalui sambungan telepon.

“Ada penjarahan di pusat bisnis sekarang, ada penghancuran. Sangat kacau,” ujar Ortega. Dia mengatakan kepada Khadafi bahwa di saat seperti ini kesetiaan para negara-negara sekutu Libya tengah diuji.

Pemerintah Bolivia pimpinan Presiden Evo Morales tidak mendukung maupun mengkritik, mereka hanya menyampaikan simpatinya terhadap banyaknya korban yang jatuh. Melalui pernyataannya, Bolivia menyatakan prihatin dan mendesak kedua pihak di Libya untuk mencari jalan damai.

Sementara itu, Presiden Venezuela, Hugo Chavez, memilih diam dan tidak berkomentar. AP mengatakan bahwa diamnya Chavez adalah pertanda bahwa dia ingin menjaga jarak dengan Libya setelah sebelumnya tersiar kabar Khadafi kabur ke Venezuela. Kabar tersebut terbukti tidak benar.

• VIVAnews

0 komentar:

Posting Komentar

free comment,but not spam :)