INTERNASIONAL - China, India, RI Pimpin Ekonomi Asia 2011


Kajian ekonom Standard Chartered Bank memperkirakan pada tahun depan, Asia masih akan terus memimpin pemulihan ekonomi dunia. "Cina, India dan Indonesia akan terus memimpin pertumbuhan Asia yang didukung oleh pasar domestik yang besar serta momentum  pertumbuhan ekonomi yang kuat," demikian proyeksi Stanchart.

Dalam laporan terbaru Stanchart yang berjudul "Global Focus 2011 - The Year Ahead", lembaga keuangan internasional ini memperkirakan pertumbuhan tinggi akan terjadi di semua kawasan Asia. Bahkan, kawasan ini akan memberikan kontribusi 40 persen pertumbuhan dunia didorong oleh kebutuhan domestik, pertumbuhan infrastruktur dan peningkatan perdagangan.

Menurut Stanchart, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil cenderung tetap kuat di kisaran 6,8 persen, meski lebih rendah dibandingkan 2010 yang diperkirakan sebesar 8,1 persen. Ini karena memudarnya dampak stimulus fiskal dan moneter.

Negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong akan mendapatkan keuntungan dari akses ke pasar domestik China, kunjungan turis serta aliran modal. Di kawasan Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi akan didukung oleh harga komoditas yang solid serta percepatan aliran modal dan perdagangan.

Bank terkemuka yang berpusat di Inggris ini memperkirakan perekonomian global akan mencerminkan kawasan Timur yang berkembang pesat, serta kawasan Barat yang cenderung diam. Pergeseran keseimbangan kekuatan ekonomi dan keuangan dari Barat ke Timur tampaknya akan terus berlanjut.

"Dampak positifnya adalah masih banyak peluang tersedia," kata Stanchart. Sedangkan, dampak negatifnya adalah negara-negara Barat akan tetap terlilit utang, deflasi dan deleveraging.

Amerika Serikat telah melalui masa lalu yang terburuk, tetapi akan menghadapi pemulihan di bawah-tren berbatasan dengan stagnasi. Eropa akan menghadapai masalah besar. Euro kemungkinan akan runtuh pada tahap tertentu jika kawasan Eropa gagal menjadi kesatuan politik.

Stanchart menilai kebijakan mata uang akan terus menjadi berita utama. Perkembangan situasi yang perlu diwaspadai adalah ketegangan geopolitik di semenanjung Korea dan Laut Cina Selatan, regulasi yang berlebihan, krisis utang bank dan pemerintah di Barat, gelembung inflasi di seluruh Asia serta proteksi perdagangan.

Baca Juga: Chindonesia, Tiga Kekuatan Dahsyat Ekonomi Dunia
 
• VIVAnews

0 komentar:

Posting Komentar

free comment,but not spam :)