INTERNASIONAL - Jet Inggris Menyerang Libya Sesudah Qaddafi Mengejek

Inggris pada Rabu menyatakan jetnya menyerang pasukan Muamar Qaddafi di tiga wilayah berbeda, sehari setelah pemimpin terguling Libya itu mengejek pemboman NATO tidak akan lama. Di kantong pendukung Qaddafi, Bani Walid, pesawat Inggris menghancurkan sarana kendali dan melumatkan sasaran serupa kedua di Hun, 260 kilometer di tenggara, kata Kementerian Pertahanan.


Dikatakannya bahwa pesawat tempur Tornado GR4 kemudian menghantam bekas sekolah di kota asal Qaddafi Sirte, yang menjadi kendali sebagai pangkalan untuk kendaraan lapis baja dan artileri anti-pesawat.

Pada Selasa, Qaddafi dalam rekaman pidatonya mengatakan, "Bom pesawat NATO tidak akan lama." Menteri Luar Negeri Inggris William Hague sesaat setelah itu bersikeras bahwa gerakan tentara NATO di Libya akan berlangsung selama diperlukan.

Pengikut Qaddafi menyatakan menangkap 17 tentara bayaran asing pada pekan ini, menyoroti gerakan rahasia tentara dalam penggulingan pemimpin Libya tersebut. Pada awal pemberontakan di Libya itu, sekelompok diplomat Inggris, termasuk tentara dari pasukan khusus, secara memalukan ditangkap di Benghazi saat berusaha menghubungi pasukan pemberontak.

Sejak itu, gerakan pasukan khusus tampak lebih berhasil, melibatkan petugas dari Inggris, Prancis, Yordania, Qatar, Turki, Mesir dan Keamiran Arab Bersatu, kata media. Satuan pemberontak di Tripoli diam-diam dipersenjatai, sehingga dapat bangkit dan membantu merebut ibukota itu, sementara petugas Inggris menyusupi kota tersebut untuk memasang peralatan radio guna membantu serangan udara NATO dengan cara menghindari korban warga.

Prancis mengirim puluhan "penasihat tentara" untuk menggalang dan melatih pemberontak. Prancis juga mengirim senjata kepada pemberontak, yang dipasok Qatar. Wartawan Reuters di lapangan melihat bukti pasukan khusus asing di darat, meskipun kegiatan mereka tidak jelas.

Pemberontak, yang kebenarannya tak dapat dipastikan, juga berbicara tentang bantuan dari petugas badan sandi Amerika Serikat CIA. "Pasukan khusus Barat kurang terlibat dengan pertempuran di darat dan lebih berpusat pada gerakan pasukan NATO memberi keterangan sandi tentang sasaran, memasok senjata dan pelatihan kepada pemberontak itu," kata Barak Seener, peneliti di RUSI.

"Peran mereka berhasil dan menyebabkan peningkatan pembelotan, penggerusan dukungan bagi Qaddafi dan kecepatan ambruk pemerintahnya bersama dengan kejatuhan Tripoli," katanya. Heisbourg mengatakan bahwa dengan Qaddafi lari, sekarang waktunya untuk pasukan khusus asing mulai meninggalkan Libya secepat mungkin, karena mereka terancam terperangkap dalam pertengkaran dalam pasukan setia pada pemerintah peralihan baru Libya.

Sementara rincian muncul tentang yang dilakukan pasukan khusus sebelumnya dalam kemelut itu; bantuan senjata dan kiat, bertindak sebagai pengendali udara untuk pembom NATO dan memberi senjata untuk pasukan pemberontak di Pegunungan Barat; belum jelas yang mereka mungkin lakukan sekarang.

Ketua Afrika Bersatu Teodoro Obiang Nguema mengutuk campur tangan tentara asing di Pantai Gading dan Libya, dengan mengatakan bahwa Afrika harus dibolehkan mengelola urusannya. "Afrika tidak memerlukan pengaruh dari luar. Afrika harus mengelola sendiri urusannya," kata Obiang Nguema, yang juga presiden Guinea Khatulistiwa, dalam muktamar antarbangsa di Jenewa pada awal April.

"Saya percaya bahwa masalah di Libya harus diselesaikan dalam kerangka dalam negeri dan bukan melalui campur tangan, yang dapat muncul untuk menyerupai campur tangan kemanusiaan. Kita telah melihat itu di Irak," kata Obiang Nguema.

*republika.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

free comment,but not spam :)